Liburan ke Da Nang (lanjutan curhat…)

Ah, nanti malam New Year Eve bagaimana suasana kota? 80% tempat makan tutup, cafe juga dan yang unik satu-satunya mall disini, Vincom namanya juga tutup. Ini kali pertama saya lihat mall tutup selama 3 hari! Tadinya bela-belain jalan kaki panas-panasan ke mall dengan asumsi pasti mall buka, itu penyelamat terakhir soalnya mie cup instant tinggal 1 stocknya. Tapi harapan tinggal kenangan…hahahha (barusan teman Vietnam kita minjamin motor, jadi bakalan bisa keliling kota cari makan) soalnya tempat penyewaan motor juga tutup. Lucu disini, tapi yah namanya budayanya seperti ini kita nikmati sajalah prosesnya.

Well, malam terakhir di Hotel Nirvana, seekeor kecoa terbang dari lemari ke dipan tempat tidur kita, sejak saat itu Sebastian jadi percaya kalau kecoa bisa terbang hahaha. Jadi kita lagi asyik pillow talk, letak lemari berhadapan dengan tempat tidur kita, Sebastian sudah lihat seperti ada yang bergerak-gerak di atas lemari, seketika terbang ke arah dia, sontak meloncat kaget, pucat sementara saya kekeh (tega banget yah?) Jadi ingat waktu kecil, masih tinggal di RSS Sri Gunting Sunggal Kanan, tiap malam kalau tidur selalu ada kecoa terbang, nggak ngerti darimana masuknya (soalnya kecoa identik dengan kotor, sementara rumah dan hotel yang kita tempati juga bersih), mungkin emang lagi musim kecoa saat itu. Dan lanjut lagi, terjadilah aksi pukul kecoa, kejar-kejar pake pukulan sandal hotel, saya pukul sekali dan gulung dalam tisu. Okay beressss! Sebastian lega, by the way di Jerman memang nggak ada kecoa, makanya heboh, biasa Sebastian kalau liat kecoa ekspresinya seperti kita kalau lihat penguin (gitu kira-kira perumpamaannya). Eh, tiba-tiba kecoanya yang digulung tisu bergerak-gerak, secepat kilat Sebastian pukuk-pukul lagi pakai sandal sampai penyet (kek ayam penyet). Setelah poto-poto buat barang bukti review, yah dengan berat hati kita bawa itu barang bukti paginya ke receptionist (kaget dia). Semoga hotel-hotel dimanapun benar-benar ketat insect controlnya kasihan customer dan juga reputasi hotelnya kan.

Bersyukur sekali setelah jalan hujan-hujan cari hotel, dapat juga tepat agak ke kota dekat Golden Bridge dan langsung dapat Han River view dari jendela, setelah negoisasi yang alot, beneran nawarnya seperti di pasar dari mulai 600.000VND sampai akhirnya dapat juga 450.000VND per malam. Kebetulan ownernya lagi disitu dan mereka lagi sepi customer (tapi beneran ini kota kebanyakan hotelnya). Heaven! tempat tidurnya akhirnya empuk, dan kamar mandinya bagus. Senang deh disini, pokoknya buka jendela dapat pemandangan liat sunset dan low price. Kita sengaja nggak ambil breakfast, trauma! di hotel sebelumnya hari pertama breakfastnya mantap, Bahn mi pakai omelette (typically Vietnamese dish), hari kedua kita ditawarin Pho (tadinya kita ngotot mau seperti hari sebelumnya) soalnya mereka tidak ada menu itu. Betapa kecewanya kita malah dikasih Pho instant (saya ngelihat bungkusannya di tempat sampah dapur) dari rasanya kan ketara, kebanyakan MSG (ngambek muka kita berdua).

Kesanya kita banyakan complain yah? sebenarnya nggak kok, kita paling enak soal traveling, penginapan, dan makan, Sebastian juga gampang di handle, tapi kalau tricky seperti ini, yah dengan berat hati kita komplain. Soalnya bukan tipikal turis hura-hura kan, traveling tapi realistis. Yah jadi semuanya kita ungkapkan secara gamblang.

Kita akhirnya menyadari, Da Nang tidak cocok dikunjungi ketika liburan New Year Vietnam, soalnya rata-rata pada tutup (seperti yang saya sebutkan diatas), mereka sudah libur 3 hari sebelum New Year, bahkan ada yang seminggu sebelumnya, sampai awal Februari. Libur berarti semua tutup, ketika saya jalan keliling cari makanan, semua keluarga kumpul di rumah sambil minum bir (seperti kita juga kalau tahun baru, tapi libur kita nggak segitunya juga yah). Mereka beneran libur, culture shock sekali, bahkan public places juga tutup. Ada sih yang buka cafe ngopi (tidak jual makanan), kan nggak mungkin ngopi Vietnam doank yah hahaha… Btw, mini market sangat langka disini, jauh beda dengan di Saigon.

Intinya kalau mau liburan ke Da Nang boleh – boleh saja sih, tapi kalau tidak ada yang dikejar, lebih baik nai bus walaupun lama tapi lebih murah, karena tiket pesawat dari Saigon ke Da Nang itu 3 kali lipat dari tiket Da Nang ke Saigon (seram kan). Da Nang cantik sih, ada pantai dengan ombak yang bagus (cocok buat surfing), ada gunung buat trekking dan bangunan tua (kalau suka sejarah), temple dan Dragon Bridge yang jadi mascot. Tapi cuaca sangat nggak bersahabat, buatku terlalu dingin, belum lagi kalau hujan (seperti kota hujan) nggak bisa kemana-mana. Transportasi disini mudah ada taxi, grab juga jadi murah. Cuma kalau disuruh memilih, saya dan Sebastian lebih suka Saigon, lebih hidup kotanya.

tips :

Ah, hampir lupa disini juga kita saranin nggak usah ke COFFEE TIME! Harga selangit, dan mereka buat menu makanan dalam bahasa Inggris kesannya keren, tapi yang dihidangkan tidak sesuai. Boleh baca review saya dan Sebastian di Google Map dan Tripadvisor (https://www.google.com/maps/place/Time+Coffee/@16.0632903,108.2301461,17z/data=!4m5!3m4!1s0x3142182cee8d1063:0xcddce3f737a1bbbc!8m2!3d16.062908!4d108.230264)

Manners count!

Thanks for reading, boleh sharing disini tentang pengalaman liburan di Vietnam 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *