Pujian . . . Budayakan Memuji

The power of compliment! Kok sepertinya berat yah? Keberatan kah? Kekuatan dari sebuah pujian. Masa iya pujian punya power? Yang ada juga pujian bisa membuat orang menjadi besar kepala dan lupa diri! Biasa saja, tidak perlu dikasih pujian apalagi reward!

Kok bisa bahas tentang pujian segala sih? Jadi siang tadi kita makan di cafe dekat sini. Sebenarnya pengen makan di warung favorit kita yang menyediakan makanan tradisional Vietnam. Cuma tadi saya agak telat pulang, karena jalan kaki sekitar 1 jam dari tempat les bahasa Jerman ke flat dan sempat singgah pula di supermarket. Alhasil begitu sampai, semua warung makan lagi jam istrahat, tutup sekitar 2-3 jam dan nanti buka lagi untuk makan malam. Satu-satunya yang buka yah cafe tempat ngopi, dan syukurnya cafe ini sediakan menu makan siang limited edition (soalnya cuma menyediakan 4 menu). Kita baru kali pertama kesini.

Seperti biasa kalau masih di Asia yang empunya cafe mengira saya Vietnamese dan berbicara dengan bahasa Vietnam dengan saya, mencoba mengabaikan Sebastian hahahah… Seketika tersadar juga abang itu kalau saya juga orang asing (kebiasaan kalau di Asia orang asing = mata biru, rambut pirang dan kulit putih), kaget dia ada bule coklat  😛 

Kita pesan curry chicken, ragu chicken (ini katanya masakan French *ayamnya ragu 😀 ) strawberry smoothies dan avocado smoothies. Jadi karena nggak ngerti arti Ragu Chicken, saya tanya deh sama pemilik cafe, apa itu? eh, gagal maning malah dijawab pake bahasa Vietnam…dan ada seorang foreigner lain disitu lagi makan juga ikut nimbrung dan menjelaskan ke kami kalau itu seperti ayam di masak pakai saus dengan kentang dan wortel. Cas cis cus…kita duduk manis di depan, sambil sedikit nguping…hahaha rupanya dia guru les bahasa Inggris private, jadi cewek Vietnam yang duduk disampingnya tadi adalah muridnya. Disini pemandangan yang lumrah, belajar private bahasa entah itu Inggris, Jerman atau Prancis di cafe, karena murah cuma pesan 1 gelas minuman, bisa duduk berjam-jam pakai wifi super kencang sambil ngajarin murid. Ah, beruntungnya jadi expat di negara ini, bukan bule coklat yah 😆 !

Pesanan datang, Sebastian suka karinya, saya juga suka ragunya (cuma biasa saja seperti tumis ayam hahaha…), smoothiesnya juga enak total semua 130.000VND udah plus minum es green tea tawar sepuasnya, plus lagi wifi kencang (tapi nggak kita pakai karena lagi quality time ngobrol).

Sepanjang makan dan minum kita ngobrol banyak, dari mulai dari Goethe secara worldwide lagi ada masalah kekurangan tenaga pengajar, karena bayaran yang diberikan sedikit, kualitas mereka jadi menurun, kita tahu ini dari Papa Sebastian. Btw, disini saya memutuskan ganti kelas, karena gurunya tipikal Asian banget mengajarnya, serasa Indonesia 10 tahun lalu (dimana guru selalu benar dan cepat tak menentu). Penerbangan ke Jakarta dan hotel selama disana buat pengurusan family visa, paperwork, foto dan lain-lain. Kerjaan Sebastian, soalnya dia lagi siapin video buat training dan kita mau sewa kantor untuk satu hari tapi belum dapat karena lagi-lagi masalah bahasa dan tahulah kalau sudah lihat foreigner harga sewa sehari dibuat jadi harga sewa sebulan (unbelieveable  😯 ). Banyak deh…kita ngobrol panjang lebar sambil sesekali banyak kali kekeh.

Eh, ternyata bapak guru tadi masih disitu, kita bilang makasih rekomendasi makanannya enak. Kita ngobrol deh, dan saya dikirain orang Filipina  😀 katanya bahasa Inggrisku bagus sekali. Ah, terima kasih, Pak. Sebastian langsung menimpali kalau saya istrinya (pakai penekanan) berasal dari Indonesia, dan lanjut tanya jawab nyambung karena si bapak ternyata traveler juga dan tahu dimana itu Pulau Sumatra, Sumatra Utara dan kota Medan. Sebastian dan bapak itu klop dan ngobrol sekilas tentang traveling dan Manila jadi topiknya hahaha…gara – gara saya dikira Filipino. Dia lahir disana tapi warganegara Amerika. Manila katanya layaknya ibukota padat, cocoknya cuma buat transit pesawat saja  😆  lebih mending Saigon. Kita serentak mengiyakan, Saigon lebih mending bahkan dibandingkan sama Jakarta. Hahaha…padahal kita planning mau traveling ke Filipina juga.

Setelah bayar, kita serentak bilang ‘have a nice day’ sama si bapak dan pemilik cafe. Sepanjang jalan seperti biasa pegangan tangan, ngelendotan sambil jalan ke flat. Saya bilang ke Sebastian, benar yah sayang bahasa Inggrisku bagus? Sebastian spontan ketawa dengar pertanyaanku, pasti gara-gara Bapak tadi kan, katanya. Bahasa Inggrismu bagus kok sayang, kalau nggak bagus nggak mungkin kita 1 jam tadi selama makan ngobrol panjang lebar dan ketawa.

Kadangkala saya pikir kamu puji saya karena saya pasangan kamu, bukan yang sebenarnya. Saya beneran agak down seminggu ini, kok sepertinya bahasa Jerman itu makin susah, makin naik level A2 merasa bodoh banget. Soalnya yang kasih pujian ke saya dalam hal bahasa Jerman cuma Sebastian, keluarga di Medan dan keluarga beserta teman-teman di Jerman. Selain itu nggak ada yang kasih pujian… Tapi jujur setelah tadi mendengar pujian sederhana itu, semangatku kembali lagi, semua butuh proses yah sayang. Kadang memang kita butuh juga pujian dari orang lain, soalnya kalau orang terdekat yang puji kan sudah biasa, kata Sebastian. Sepertinya saya harus balik lagi ke cafe itu dan bilang terima kasih sama bapak tadi karena sudah memuji istri saya. Hahahaha…kita ketawa bebarengan. Besok giliran kita yang kasih pujian sama orang yah, supaya kita dapat pujian lagi. Barusan Sebastian juga dapat pujian dari bosnya, dia senang minta ampun sampe keringat dingin dengan mata berbinar-binar.

Entahlah itu tipikal Asian *CMIIW yang jarang sekali memberikan pujian? Seringkali dengan kata eh gendutan yah? eh udah isi? eh bahasa Inggrisnya kok belepotan pede banget ngomong? eh kok seperti pembantu yah? eh kok makin hitam kali, katanya liburan? Hahahah…semua salah yah nggak ada pujiannya. Alangkah lebih baik kalau diganti dengan wah, kulit kamu makin eksotis, seksi loh! Semangat terus pakai bahasa Inggrisnya, nggak apa salah yang penting latihan dan berani jadi bisa improve. Suka deh outfit kamu bawaannya santai. Seru deh kalian mumpung masih berdua kelihatan seperti honeymoon terus. Wah kelihatan banget yah yang bahagia itu.

Jadi intinya yah biasakan memberikan compliment biar hidup makin positif, kamu nggak senang lihat orang lain senang? Ah sudahlah, ini saya sempatin nulis karena PR lagi sedikit, dan besok mau ganti kelas dan lagi termotivasi gara-gara pujian. Ayo puji orang lain disekitar kita ya

Have a great Monday ♥

 

 

2 thoughts on “Pujian . . . Budayakan Memuji

  1. saya suka tulisan kakak, sangat inspiratif:)
    jadi pengen mulai dari skrg utk kasih pujian ke org lain biar lebih termotivasi. hal2 yg positif bisa membuat hidup lebih semangat:)
    semangat terus menulis ya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *