Cerita tentang Bang Willy

Kali ini subjek tulisanku mengenai adikku yang ku panggil abang Willy berhubung cuma dia satu-satunya anak laki-laki di keluarga kami. Sebenarnya sudah punya ide untuk menulis ini dari beberapa bulan yang lalu, sewaktu Willy bertugas di lautan untuk patroli kapal-kapal dari luar yang membawa barang-barang seludupan (ilegal). Melalui BBM group keluarga, Willy mengabarkan kalau kapal mereka (BC 3xxxx) sengaja disamarkan demi keamanan berhasil menangkap beberapa bal pakaian bekas (monja) seludupan dari negara tetangga setelah melalui baku tembak antar kapal dan juga serangan senjata tajam karena awak kapal mereka saat itu juga banyak sekali. Puji Tuhan Willy dan teman-teman patroli selamat, tapi dia mengalami luka sayatan di dekat leher dan tangan (fotonya dikirim via BBM dan ketika ketemu di Medan masih kelihatan juga bekasnya). Video baku tembaknya dan proses penangkapannya pun membuat aku merinding waktu menontonnya…tinggi sekali resiko pekerjaan mereka. Itu masih satu kasus. Belum lagi kasus ilegal fishing, penyeludupan bawang, narkoba, minuman keras dan produk makanan, beda kasus beda cara penagkapan dan terkadang lebih ekstrim. Aku kadang mikir pekerjaan Willy ini sudah seperti polisi tapi di lautan.

Sejak saat itu, soal penangkapan pakaian bekas ilegal oleh Willy dan teman-teman patrolinya sering terbesit di pikiranku. Soalnya begini kita dari kecil biasa pakai baju monja yang notabene ilegal karena masuk ke negara kita pada umumnya tanpa jalur yang tepat (tidak bayar bea cukai dan seterusnya…), karena pakaian relatif mahal untuk ukuran ekonomi kita saat itu, lebih baik biayanya bisa untuk makan, rumah dan pendidikan. Masih ingat dari mulai pakaian rumah, seragam sekolah, sepatu dan tas hampir semuanya dari monja, yah karena harganya murah dan kualitasnya cukup bagus. Jujur sampai bulan Mei lalu pulang ke Medan, eh Mami kasih beberapa potong celana panjang UNIQLO (monja) yang masih bagus, murah lagi sekitar 10.000 IDR per potong kata Mami, pas pula ukuranku dan ini aku bawa ke Jerman. Lucunya, sewaktu di Bangkok aku berburu diskon juga item yang sama dengan yang dibeli Mami (sama-sama made in Korea) tapi harganya masih mahal sekitar 25o THB. Dilema kan kalau begini?

Kita dari kecil biasa pakai monja, begitu dewasa Tuhan mengijinkan Willy bekerja di BC, dan bukan kebetulan tugasnya menangkap/menindak para penyeludup melalu jalur laut…dan berarti menangkap penyeludup pakaian bekas (monja), bertarung nyawa mereka di lautan sana tengah malam sampai pagi buta. Menggunakan dan membeli barang yang ilegal berarti mendukung penyeludupan…serba salah yah. Aku yakin sekali diluar sana banyak yang seperti kami, juga memakai barang monja, yang tanpa sadar sebenarnya ada para petugas di darat dan lautan sana yang bekerja keras memberantas penyeludupan. Nah…solusi sepertinya memang harus stop beli barang-barang seludupan, misalnya barang-barang monja yang asalnya dari luar negeri. Semoga ada toko barang bekas ataupun pakaian bekas yang cuma berasal dari negara kita saja, bukan produk luar negeri. 

Pengalamanku sewaktu tinggal di Pattaya tahun lalu, di pusat pasar tradisionalnya mereka juga menjual pakaian bekas, tapi itu semua pakaian buatan Thailand, barang -barang dari mall yang sudah out of date, dijual murah di pasar, tetap dapat merk tapi tetap mendukung produk dalam negeri. Itu pengamatan di Pattaya, kalau di Bangkok belum sempat survey. 

Nah, lain lagi di Jerman, disini ada namanya Flohmarkt (pasar loak) yang biasanya digelar sekali seminggu, sekali sebulan atau bahkan sekali setahun di kota – kota di Jerman, baik kota-kota kecil maupun kota-kota besar dengan frekuensi waktu yang berbeda. Biasanya di kota-kota besar sekali seminggu dan selalu di akhir pekan.

Jadi Flohmarkt ini konsepnya, pemerintah memberikan izin areal lapang mana yang bisa digunakan, dan membayar biaya sewa tempat serta kebersihan (normal procedure) dan kita bisa buka lapak dadakan. Ada yang pakai truk, mobil, gelar tikar dan ada yang pakai dekorasi kreatif semua orang menjajakan barang – barang bekas punya mereka, koleksi pribadi, dari mulai mainan anak-anak, peralatan dapur, peralatan elektronik, pakaian, tas, sepatu, buku-buku, peralatan olahraga, alat-alat berkebun, hiasan dinding bahkan peralatan makan keramik dari jaman penjajahan pun ada, semuanya lengkap.

Kalau kebetulan Flohmarkt nya di dekat kota kita tinggal, biasa kita suka kesana berburu barang-barang ini. Tahun lalu aku dapat tas cantik cuma seharga 3 € saja (masih baru sekali nggak ada lecet, pemiliknya bilang baru pakai sekali aja), aku tinggal di Medan deh gantian pakai), Sebastian dapat gameboard.

                   

Barang baru? juga ada kok, malah lebih bervariasi karena banyak yang jual-jual barang dari luar negeri, kebetulan kita punya teman, namanya Sebastian juga yang menjual barang – barang dari Bangkok dan Bali. Semua penjual yang menjual barang – barang dari luar negeri ini membawanya dengan legal, karena mereka bayar pajak dan retribusi lain lengkap.

Kebayang dengan barang – barang seludupan di Indonesia, masuk via laut diam – diam dengan modal sedikit, demi meraup keuntungan sebanyak – banyaknya tanpa pikir panjang. Bukan hanya negara yang dirugikan, tapi juga teman – teman sendiri (bangsa sendiri) yang berjualan barang produk lokal dengan harga lebih tinggi ataupun sama dengan barang seludupan. 

Kalau sudah begini, ini sambil nulis jadi kesal sama oknum – oknum yang suka menyeludupkan barang ilegal ini. Willy dan teman -temannya capek nangkapin ehhhhh…bos besar Monja di Indonesia tetap aja lanjut bisnisnya via telepon genggam. Dan itu terus dan terus karena permintaan tetap ada. Coba peraturan kita lebih ketat…padahal udah seperti sistem Ibu Susi loh, yang seludup – seludup tenggelamkan! Sekalian bos – bos besarnya! Coba juga penjualan barang – barang bekas kita agak sedikit kreatif seperti di Jerman misalnya, pemilik barang – barang apapun itu kalau sudah bosan dijual murah. Hitung – hitung membantu tetangga sekitar yang kurang mampu, dan sekaligus mengurangi isi rumah yang terlalu padat.

Mamiku sudah mulai juga dari tahun lalu, bongkar pakaian-pakaian lama dan dikasih/dijual ke tetangga, bahkan online. Mamiku coba jual via OLX, tapi yah itu ada lagi kekuatiran yang lain, kalau – kalau calon pembelinya penipu. Akhirnya yang jualan online tidak dipakai lagi metodenya. Tapi yah sepertinya butuh proses untuk bisa benar – benar lepas dari kebiasaan beli pakaian monja, dalam hal ini karena masuknya ilegal yah.

Adikku Willy (kali ini dia yang pimpin patroli) selama 2 minggu ini beserta teman-temannya patroli di lautan dari Tanjung Balai Karimun dan kemarin singgah ke Belawan juga. Willy bilang ini lagi high season penyeludupan makanya sampai 2 minggu patroli…semua baik – baik saja, mereka sukses menjalankan tugas negara dan berhasil menangkap satu kapal besar yang mau menyeludupkan pakaian bekas dari Malaysia ke Indonesia. Sukses terus Direktorat Bea Cukai Indonesia!

 

Have a good morning, beautiful souls ♥

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *